Menelaah Naskah Ringkas sebagai Alternatif Pedagogis dalam Merespon Brain rot

(Source: Pinterest)

Oleh : Muh. Dhafa Ardalopha

Selang beberapa tahun, terhitung sejak 2023 dunia telah dihantui oleh sebuah momok yang terus membayangi pikiran manusia, membuatnya seperti benang kusut, menolak untuk terurai. Era digitalisasi yang tidak terbendung, membuat hantu ini bergerak bebas, bisa muncul kapan dan di mana saja. Hantu ini biasanya lebih kita kenal dengan nama brain rot (pembusukan otak).

Jika bisa dianalogikan, saya sebagai penulis lebih memilih untuk memandang brainrot ini sebagai wabah. Mengapa? Sebab ia sama dengan wabah, bergerak halus, berjangkit dengan cepat, dan meneror sejumlah besar orang di seantero dunia, khususnya generasi muda. Dalam hal ini, ia memiliki kemiripan dengan covid-19 yang baru berpamitan kemarin sore, bedanya ia menyerang akal, bukan fisik manusia.

Awal penggunaan

Adapun jika ditinjau dari sejarahnya, kita akan menemukan fakta bahwa pada awalnya frasa ini digunakan pada tahun 1854 oleh Henry David Thoreau, seorang naturalis berkebangsaan Amerika Serikat. Dalam bukunya yang berjudul Walden, Thoreau memakai istilah ini untuk melabeli masyarakat yang mager dalam mengolah atau mencerna informasi yang rumit, atau bisa dikatakan mereka lebih memilih untuk menjadi dungu saja dibanding berhadapan dengan kerepotan sementara.

Menurut Kamus Oxford, brain rot didefinisikan sebagai penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang, yang dianggap sebagai akibat dari terlalu banyak mengonsumsi konten online berkualitas rendah, seperti doomscrolling (terus-menerus membaca berita negatif) dan zombiescrolling (membuka-buka media sosial tanpa sadar dan tujuan yang jelas) di platform media sosial. Fun factnya, istilah brain rot ini dinobatkan oleh kamus oxford sebagai word of the year 2024, dimana penggunaan frasa ini melonjak tajam hingga 230%, sebuah presentase yang fantastis. 

Arus Survei Indonesia (2024) memperlihatkan bahwa lebih dari 31,6% Gen Z Indonesia menghabiskan waktu 5-6 jam/hari di media sosial, dan 19,6% lainnya tembus hingga 7-8 jam. Hampir semua (99,8%) terhubung dengan internet, dan tiktok, youtube, serta instagram menjadi destinasi favorit mereka. Artinya, sepertiga hari mereka ludas dalam pusaran konten cepat, berganti dalam hitungan detik, disetir oleh algoritma yang hanya ingin mempertahankan perhatian. 

Data tersebut mengindikasikan bahwa sampai sekarang fenomena ini tidak kunjung berakhir. Ironinya, yang namanya hantu yang jelas menakutkan biasanya ditakuti dan dihindari oleh kebanyakan orang, namun sepertinya hal itu tidak berlaku pada hantu yang satu ini, ia melekat kepada siapapun yang menjadi mangsanya seperti habis kebanjiran lem korea. Mungkin, di antara sebabnya karena kita belum berkenalan lebih dekat dengan pengaruhnya.

Dampak Brainrot

Jika ditinjau dari aspek psikologi, aktivitas doomscrolling dan zombiescrolling dapat meningkatkan rasa cemas, stres, bahkan depresi. Tidak hanya itu, brain rot juga dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis serta pemecahan masalah.

Dalam hal ini, psikolog IPB, Nur Islamiah, M.Psi., PhD atau yang biasa disapa dengan ”Ibu Mia” berpendapat bahwa dampak yang telah disebutkan di atas akan terjadi dengan beberapa mekanisme berikut: 

Pertama, penurunan rentang perhatian (attention span). Mereka yang tenggelam dan hanyut di dalam konten instan, seperti video pendek atau instagram reels, biasanya cenderung tidak sabar ketika berpapasan dengan masalah yang rumit, menjadi tidak fokus, alias gampang terdistraksi. Alih-alih berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain, malah tidak ada yang beres.

Kedua, kelebihan beban kognitif (cognitive overload). Hal ini karena otak diguyur dengan segentong informasi baru, tanpa dianalisa dan dipahami dengan baik, persis halnya dengan tumpahan ember raksasa berisikan air yang biasa dijumpai di waterpark. Jika ini terus dibiarkan, mereka nantinya hanya terus menelan informasi tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Ketiga, kepuasan praktis (instant gratification). Setiap kali seseorang melihat hal yang menarik otak melepaskan dopamin, yaitu zat penyenang. Bukannya ini sesuatu yang lumrah? Iya, masalahnya bukan di situ, melainkan terletak pada dopamin yang jebol. Jika itu sudah terjadi, otak menjadi kehilangan sensitivitas alaminya, jadinya otak perlu tontonan yang semakin banyak untuk merasakan efek yang sama. Akibatnya, berselancar di platform pun menjadi makin betah.

Adapun di dalam dunia pendidikan, fenomena brain rot ini kembali melanjutkan aksinya, ia memaksa para konten creator edukatif, guru, dan para pengajar untuk mengikuti bayangannya. Belakangan ini, mereka berupaya membuat konten sesingkat mungkin, hal itu ditempuh tiada lain agar postingan mereka mendapat sambutan hangat, menjadi santapan yang memikat, bukan cuman sekadar lewat.

Kalau singkatnya konten adalah masalah, konsep matan apa kabar?

Meskipun telah menjadi persoalan, singkatnya konten tidak serta-merta dapat dianggap sebagai premis yang membuat kita menutup mata dari uluran tangannya. Karena jika ditilik dari historinya, kemajuan peradaban islam khususnya dalam bidang pendidikan tidak terlepas dari konsep ikhtisar.

Jika ditelusuri dari kronologi kodifikasinya, suatu disiplin ilmu mulanya datang dengan ekspositoris luas (mabsȗtȃt), seperti Ar-Risȃlah (198 H) di dalam ilmu ushul fiqh, Al-Umm (199 H) di ilmu fiqh, Al-Kitȃb (160 H) di ilmu nahu, dan ilmu lainnya. Di awal-awal, buku bergenre seperti ini tidak menjadi sebuah persoalan, karena pemahaman orang-orang di kala itu lahir secara alami sebagai pemilik bahasa, meskipun di antara mereka ada yang non-arab tapi mereka punya kemampuan yang bisa menyamai pemahaman penutur aslinya. Sehingga hal itu memudahkan mereka untuk melahap pembahasannya, sekalipun kompleks.

Di masa-masa belakangan, tatkala terjadi ekspansi besar-besaran, orang-orang ajam kian melonjak, kebutuhan terhadap ikhtisar pun menjadi darurat demi menjaga kelestarian khazanah keilmuan islam. Sejak itu, konsep matan mulai marak digalakkan, tepatnya pada abad ke-4 H hingga abad ke-10 H, dimana keberadaannya menjadi tangga yang pada akhirnya akan kembali mengantarkan talib ke sumber primernya, mabsȗtȃt.

Apa itu ikhtisar?

Di dalam dunia literatur islam, ada tradisi di kalangan ulama yang dikenal dengan ikhtisar, dimana mereka meringkas karya sebelumnya yang awalnya berjilid-jilid menjadi beberapa halaman saja, hasil karyanya itu disebut dengan mukhtasar atau matan. 

Matan biasa didefinisikan sebagai tulisan singkat namun sarat makna, di sebuah seminar pameran buku internasional, Kairo tahun 2025 istilah ini juga pernah dijelaskan oleh Syaikh Fauzi Konate, sosok linguis arab yang konon digelari Sibawaih Afrika yang kala itu menjadi narasumbernya, yaitu sebuah buku berukuran kecil yang meringkas pembahasan-pembahasan suatu disiplin ilmu.

Meskipun tidak bersifat komprehensif, konsep matan arab ini tidak sama sekali mencederai substansinya, melainkan hanya menyajikan permasalahan-permasalahan pokok dan kaidah-kaidah dari suatu disiplin ilmu, tanpa menguraikan nuansa subtil, dimensi tersembunyi, serta rincian pelik yang terkandung di dalamnya, demikian ujarnya.

Contoh, di dalam disiplin sintaksis bahasa arab ada kaidah yang mengakatakan al-fȃ’il marfȗun, ini pembahasan pokok. Adapun jika kemudian disoal, kenapa fa’il marfu’ bukan manshub, ini masuk di pembahasan lanjutan, dan tidak akan ditemukan di dalam matan. Maka, untuk menjaga agar sebuah matan tetap eksis dengan substansinya, ia tidak dibiarkan berdiri sendiri, melainkan digandeng dengan tiga kawannya: Syarah, hasyiah, dan taqrir.

Singkatnya, syarah hadir sebagai karya eksplanatoris terhadap matan, hȃsyiah umumnya memberikan catatan kritis, klarifikasi, koreksi, atau pembahasan atas uraian yang terdapat di dalam syarah, dan taqrȋr sebagai bentuk literatur yang lebih lanjut, berisi formulasi atau artikulasi kembali atas hasil pembahasan yang telah berkembang dalam tradisi sebelumnya, syarah dan hȃsyiah.

Agar mendapatkan informasi yang utuh, setiap matan mengharuskan dirinya dibaca bersama penjelasannya. Kaidah ini, alih-alih menjerumuskan kita dalam keringkasan kosong justru dapat menjadi penstimulus untuk terus menyokong rasa penasaran, memaksa otak untuk terus bertanya tentang konteks lanjutan yang terselubung dalam tiap tahapan ringkasan.

Tujuan Penulisan Matan

Tradisi ikhtisar di kalangan ulama tidak muncul sekonyong-konyong. Selain karena kemampuan kognitif masyarakat yang menurun, ia datang membawa tujuan yang dengannya literatur turas Islam tetap eksis sepanjang zaman. Di dalam seminar yang sama “Al-Mutȗn Manhajiyyȃt wa Syubuhȃt”, Sang Sibawaih Afrika menyebutkan beberapa di antaranya:

Pertama, mempermudah talib dalam menghafal pokok-pokok pembahasan ilmu. Dalam hal ini, Imam Khalil Ahmad Al-Farahidi, pencetus ilmu prosodi mengatakan: ”Kalam itu diringkas untuk dihafal, dan dijabarkan untuk dipahami”.

Kedua, mendorong para talib untuk mereguk ilmu dari pakarnya. Hal itu dikarenakan kunci untuk memahami sebuah matan terselip di sakunya syekh. Maka bagi pelajar tahap awal, akan sulit baginya untuk memahami matan tersebut dengan sendirinya. 

Ketiga, memperpendek jarak antara talib dan tujuannya dari mengkaji matan, yaitu pembentukan kecakapan intelektual (malakah). Kecakapan ini biasanya terbentuk saat proses penelaahan matan dengan sistem berjenjang. 

Dengan melihat tujuan tersebut, semakin nampaklah diferensiasi antara konsep matan dan konten receh yang hanya beroreantasi pada pemenuhan fungsi rekreatif, distraktif, dan afektif dengan memanfaatkan atensi audiens sebagai instrumen pembentukan engagement dan keterhubungan sosial.

Matan sebagai penawar bagi brain rot

Di samping ukurannya yang mungil, bisa ditaruh di saku baju, matan ini, berbasis analisa penulis, juga dapat menjadi alternatif pedagogis bagi fenomena yang belakangan ini masih gentayangan, brainrot. Titik temunya bukan pada kuantitas matan yang khatam, tetapi pada cara matan membentuk pola konsumsi dan pengolahan informasi. Hal itu bisa dilihat dari beberapa aspek, di antaranya:

Aspek atensi, sebagaimana yang diketahui bahwa brainrot berkaitan dengan konsumsi konten yang singkat, cepat, dan silih berganti. Sementara pengkajian matan justru menuntut perhatian yang berkelanjutan terhadap satu teks. Dalam hal ini, matan dapat beroperasi sebagai latihan pemulihan daya atensi. 

Aspek kedalaman kognitif, konten brain rot cenderung dikonsumsi secara cepat dan permukaan. Sementara matan menuntut pembacaan, pemahaman struktur, serta penguraian makna. Maka, matan dapat ditawarkan sebagai transisi dari konsumsi informasi superfisial menuju pemrosesan mendalam.

Aspek nalar kritis, tidak jarang ditemukan di dalam satu paket matan adanya ruang diskusi antar satu penulis dan lainnya, talib dapat melihat bagaimana cara mereka berargumentasi, hingga melahirkan opini yang dianggap lebih kuat. Hal ini menjadi alternatif dari pola menerima informasi secara instan tanpa verifikasi. 

Aspek kontinuitas dan sistematika belajar, algoritma media sosial cenderung membuat perhatian berpindah-pindah dari satu topik ke lainnya. Sementara tradisi matan memiliki kurikulum yang bertahap dan sistematis, hal ini menawarkan pola belajar yang terstruktur dan berjenjang, bukan fragmentaris. 

Pada akhirnya, forum seperti ini berpeluang menjadi jalan keluar bagi mereka yang tersesat di kurungan brain rot. Dimana, hari-hari mereka akan selalu berhadapan dengan keringkasan yang merupakan implementasi dari brain rot itu sendiri, bedanya naskah ringkas ini berada di koridor edukatif. Semoga kehadiran tulisan ini bisa menumbuhkan kesadaran akan dekatnya penawar dari brainrot ini, itulah pengkajian matan. Wallahu A’lam.

 Edited by : Syifa Nur Syafiiyah 



Komentar

Postingan Populer