Menelisik Hikmah Keberadaan Ayat Mutasyabih dalam Al-Quran
Oleh: Syifa Nur Syafiiyah
Al-Quran merupakan petunjuk hidup bagi umat manusia yang diturunkan oleh Allah Swt dengan bahasa yang jelas agar mudah dipahami dan diamalkan. Bahkan, Allah berulang kali menegaskan bahwa Al-Quran telah dimudahkan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang ingin mengambil hikmah. Namun, ketika seseorang mulai memahami isi Al-Quran, ia akan menyadari bahwa tidak semua ayat memberikan makna yang dapat dipahami secara langsung. Ada ayat yang jelas maksudnya, tetapi ada pula ayat yang memerlukan penjelasan lebih lanjut. Dalam ilmu tafsir, perbedaan ini dikenal sebagai ayat muhkam dan ayat mutasyabih.
Perbedaan karakteristik ayat tersebut sering kali menjadi bahan diskusi atau bahan perdebatan. Sebagian orang menganggap bahwa keberadaan ayat mutasyabih bertentangan dengan tujuan Al-Quran sebagai petunjuk yang mudah dipahami. Tidak sedikit pula yang salah memahami (mengartikan) ayat-ayat mutasyabih karena menafsirkannya tanpa memahami konteks dan kaidah ilmu tafsir, sehingga melahirkan perbedaan pendapat, bahkan penyimpangan dalam memahami agama Islam.
Lalu, mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat mutasyabih jika Al-Quran telah dijelaskan sebagai kitab yang mudah dipahami dan menjadi petunjuk bagi seluruh umat Islam? Apakah keberadaan ayat-ayat tersebut justru menyulitkan manusia dalam memahami isi Al-Quran, ataukah terdapat hikmah yang ingin disampaikan melalui pembagian ayat tersebut?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tentunya kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan ayat mutasyabih. Berbeda dengan ayat muhkam yang maknanya dapat dipahami dengan jelas, Syekh Manna' Khalil al-Qaththan dalam Mabâḥits fī 'Ulûm al-Qurân mendefinisikan bahwa ayat mutasyabih merupakan ayat yang maknanya tidak dapat dipahami secara langsung sehingga memerlukan penjelasan melalui kaidah-kaidah ilmu tafsir, sedangkan hakikat makna sebagian ayatnya hanya diketahui oleh Allah Swt.
Keberadaan ayat mutasyabih bukan hanya dijelaskan oleh para ulama, tetapi juga ditegaskan secara langsung dalam Al-Quran. Allah Swt berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 7 bahwasanya di dalam Al-Quran terdapat ayat-ayat muhkam yang menjadi pokok isi Al-Quran dan ayat-ayat mutasyabih. Meskipun sama-sama merupakan bagian dari Al-Quran, ayat mutasyabih memiliki karakteristik yang membedakannya dari ayat muhkam. Perbedaan karakteristik inilah yang kemudian dijelaskan lebih lanjut oleh para ulama.
Salah satu contoh ayat mutasyabih yang menunjukkan karakteristik tersebut adalah firman Allah Swt. dalam QS. Al-Fath ayat 10:
يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ ۚ فَمَن نَّكَثَ فَإِنَّمَا يَنكُثُ عَلَىٰ نَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِمَا عَاهَدَ عَلَيْهُ اللَّهَ فَسَيُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
“Tangan Allah di atas tangan mereka. Barang siapa melanggar janjinya, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
Ayat tersebut menjadi salah satu contoh ayat mutasyabih karena terdapat lafaz “يَدُ اللَّهِ” (tangan Allah) yang tidak dapat dipahami secara sederhana dengan makna fisik sebagaimana tangan manusia. Dalam memahami ayat ini, para ulama memiliki pendekatan yang berbeda. Sebagian ulama Salaf menerima lafaz tersebut sebagaimana yang terdapat dalam Al-Quran tanpa mempertanyakan hakikat atau caranya (bilâ kayf) dan tanpa menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluk.
Sementara itu, sebagian ulama Khalaf memberikan takwil terhadap lafaz tersebut dengan memaknainya sebagai kekuasaan, pertolongan, atau dukungan Allah. Perbedaan pendekatan tersebut bukan berarti adanya pertentangan mengenai keagungan Allah, melainkan menunjukkan adanya perbedaan metode dalam memahami ayat yang maknanya tidak dapat dipahami secara langsung. Prinsip yang tetap menjadi dasar adalah firman Allah Swt. dalam QS. Asy-Syura ayat 11:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
Dengan demikian, ayat mutasyabih tidak semestinya dipahami secara tergesa-gesa berdasarkan makna lahiriahnya saja. Ayat tersebut membutuhkan pemahaman yang berlandaskan kaidah bahasa, konteks ayat, ilmu tafsir, serta prinsip dasar akidah Islam. Perbedaan metode yang digunakan para ulama juga menunjukkan bahwa memahami ayat mutasyabih membutuhkan keluasan ilmu dan kehati-hatian agar penafsiran yang dihasilkan tidak bertentangan dengan prinsip dasar Al-Quran.
Ayat mutasyabih memiliki karakteristik yang membedakannya dari ayat muhkam, yaitu tingkat kejelasan maknanya yang tidak dapat dipahami secara langsung. Kesamaran tersebut tidak menunjukkan bahwa ayat mutasyabih mustahil dipahami, melainkan memerlukan penjelasan melalui kaidah-kaidah ilmu tafsir. Para ulama menjelaskan bahwa tingkat kesamaran ayat mutasyabih tidak selalu sama. Ada ayat yang maknanya dapat dipahami melalui pendekatan kebahasaan, konteks ayat, dan hadis, sedangkan sebagian lainnya berkaitan dengan hakikat perkara gaib yang hanya diketahui oleh Allah Swt. Karakteristik inilah yang menjadikan ayat mutasyabih memerlukan pengkajian yang lebih mendalam dibandingkan ayat muhkam.
Keberadaan ayat mutasyabih dalam Al-Quran memunculkan sebuah pertanyaan mendasar: mengapa Allah Swt menurunkan ayat-ayat yang maknanya tidak dapat dipahami secara langsung, padahal Al-Quran sendiri ditegaskan sebagai petunjuk dan penjelas bagi umat manusia? Apakah keberadaan ayat-ayat tersebut bertentangan dengan tujuan diturunkannya Al-Quran, atau justru mengandung hikmah tertentu yang belum dipahami?
Karakteristik ayat mutasyabih yang memerlukan pengkajian lebih mendalam menunjukkan bahwa keberadaannya bukan tanpa tujuan. Di balik tingkat kesamaran maknanya, Allah Swt menyimpan berbagai hikmah bagi umat manusia. Salah satu hikmah tersebut adalah sebagai ujian untuk membedakan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dengan mereka yang memiliki keimanan dan keluasan ilmu. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali 'Imran ayat 7, mereka memilih ayat-ayat yang maknanya masih samar, lalu menafsirkannya tanpa dasar yang benar sehingga dapat menyesatkan orang lain dan menimbulkan fitnah.
Sebaliknya, orang-orang yang mendalam ilmunya (ar-râsikhûna fi al-'ilm) meyakini bahwa seluruh ayat Al-Quran berasal dari Allah Swt. Keyakinan tersebut mendorong mereka untuk memahami ayat-ayat mutasyabih dengan menjadikan ayat-ayat muhkam sebagai landasan utama dalam penafsirannya. Dengan demikian, pemahaman yang mereka sampaikan tetap sesuai dengan ajaran Al-Quran dan tidak menimbulkan kesesatan maupun fitnah.
Selain berfungsi sebagai ujian keimanan, ayat mutasyabih juga mengandung hikmah dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Imam as-Suyuthi dalam Al-Itqân fī 'Ulûm al-Qurân menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabih mendorong para ulama untuk mengkaji, meneliti, dan mendalami kandungannya sehingga tampak perbedaan tingkat keilmuan di antara manusia.
Adapun terhadap ayat-ayat yang hakikat maknanya hanya diketahui oleh Allah Swt manusia dituntut untuk bersikap tunduk, menyerahkan pengetahuan tentang hakikat maknanya kepada Allah, serta tetap mengimani dan membacanya sebagai bagian dari ibadah.
Dengan demikian, keberadaan ayat mutasyabih bukanlah untuk mempersulit manusia dalam memahami Al-Quran, melainkan untuk mendorong mereka terus mentadabburi firman Allah, memperdalam ilmu tafsir sesuai kaidah yang benar, sekaligus menyadari bahwa kemampuan akal manusia memiliki batas, sedangkan ilmu Allah Swt meliputi segala sesuatu.
Penerapan sikap ini akan melahirkan kerendahan hati dan keterbukaan berpikir, sehingga umat Islam tidak terjebak dalam sikap mengklaim kebenaran mutlak atas penafsiran pribadi. Perbedaan pendapat terhadap ayat mutasyabih justru menjadi rahmat yang memperkaya khazanah keilmuan, selama tetap berpegang pada prinsip bahwa Al-Quran adalah sumber kebenaran yang mutlak dan penafsiran manusia bersifat relatif.
Selain itu, keberadaan ayat mutasyabih mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru memberikan penilaian atau kesimpulan atas suatu hal yang belum diketahui hakikatnya secara utuh. Hal ini sejalan dengan semangat mencari ilmu secara berkelanjutan, karena pintu pemahaman terhadap Al-Quran tidak akan pernah tertutup sepanjang masa, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan kedalaman iman seseorang.
Pada akhirnya, keseimbangan antara mengimani ayat mutasyabih tanpa memaksakan penafsiran yang keliru dan berupaya memahaminya dengan ilmu yang benar adalah jalan tengah yang harus ditempuh. Inilah yang menjadikan Al-Quran tetap relevan dan terus diteliti maknanya di setiap zaman, membuktikan bahwa ia adalah kitab yang tiada habis-habisnya keajaiban dan kedalaman maknanya, sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT.
Edited by Nayla Tsabita Ihsani




Komentar
Posting Komentar