Akhlak: Cermin Yang Tak Pernah Berbohong
(Source: Pinterest)
Ada satu ruang dalam diri manusia yang tidak
pernah bisa dijangkau oleh mata, tidak dapat diukur dengan angka, namun
keberadaannya justru paling menentukan arah hidup seseorang. Ruang itu adalah
jiwa, tempat bersemayamnya nilai-nilai yang kelak akan tercermin dalam setiap
langkah dan tindakan. Dari ruang itulah lahir apa yang disebut sebagai akhlak,
sebuah kekuatan batin yang bekerja secara diam-diam namun berdampak nyata,
membentuk siapa diri seseorang jauh sebelum ia sempat berpikir untuk
memutuskan.
Imam Al-Gazali mendefinisikan akhlak sebagai
suatu sifat yang telah menyatu dengan erat dalam jiwa manusia, sehingga mampu
melahirkan suatu perbuatan dengan sendirinya, tanpa memerlukan pertimbangan
atau pemikiran yang berkepanjangan. Sifat batin inilah yang kemudian menjadi
penentu arah suatu tindakan. Apabila ia melahirkan perbuatan yang terpuji
sesuai dengan ketentuan akal sehat dan tuntunan agama, maka itulah yang
dinamakan akhlak yang baik. Namun sebaliknya, apabila sifat tersebut justru
melahirkan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, maka itulah yang disebut
sebagai akhlak yang buruk.
Akhlak memiliki kedudukan yang sangat krusial
dalam ajaran Islam karena disandingkan dengan takwa. Keduanya diibaratkan
sebagai buah dari sebatang pohon Islam yang berakarkan akidah dan bercabangkan
syariat, sebab takwa merupakan kesadaran dan kepatuhan hati kepada Allah,
sedangkan akhlak merupakan manifestasi nyata dari kesadaran tersebut dalam
bentuk tindakan. Takwa tanpa akhlak yang baik hanya akan menjadi keyakinan yang
tidak teraktualisasi, sedangkan akhlak tanpa takwa berpotensi kehilangan arah
dan orientasi nilai. Dengan demikian, keduanya menjadi satu kesatuan yang
saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.
Pentingnya kedudukan akhlak ini juga dapat
kita temukan dalam berbagai rujukan, seperti dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Kitab
Asy-Syifa bi Ta'rifi Huquqil Musthafa dan beberapa hadis Rasulullah, di
antaranya sabda yang menyatakan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk
menyempurnakan akhlak manusia.
Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam al-Ghazali
mengklasifikasikan akhlak menjadi dua bentuk, yaitu akhlak terpuji dan akhlak
tercela. Akhlak terpuji lahir dari niat karena Allah, kemudian tumbuh menetap
dalam diri, dan muncul begitu saja sebagai cerminan seorang hamba yang
senantiasa sadar akan Tuhannya. Sebaliknya, akhlak tercela juga tumbuh menetap
dan muncul secara spontan, hanya saja ia lahir dari kesadaran diri yang telah
kehilangan arah kepada-Nya. Bagi Imam al-Ghazali, akhlak bukan sekadar kategori
perilaku yang bisa dinilai dari luar atau bersifat sekuler seperti moral dan
etika, melainkan akar dari kesadaran seseorang tentang hubungannya secara
ruhani dengan Allah.
Dalam perspektif akhlak, suatu perbuatan
dinilai baik apabila memberikan kemanfaatan yang sesuai dengan akal sehat dan
selaras dengan ajaran serta nilai-nilai agama, dan tidak hanya mendatangkan
kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain Sebaliknya, suatu
perbuatan dinilai buruk apabila bertentangan dengan nilai-nilai tersebut dan
menimbulkan mudarat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Adapun perbedaan
mendasar antara konsep akhlak dalam Islam dengan moral dan etika secara umum
terletak pada sumber dan rujukan yang dijadikan tolok ukur untuk menilai
baik-buruknya suatu perbuatan.
Dalam konsep moral dan etika, suatu perbuatan
dinilai berdasarkan sistem budaya yang lahir dari mentalitas kolektif suatu
masyarakat dan berkembang mengikuti perjalanan zaman. Berbeda halnya dengan
akhlak, yang sumber dan tolok ukurnya berasal dari wahyu, Al-Quran dan Sunah,
sehingga nilainya tidak bergantung pada kesepakatan atau pergeseran budaya
manusia.
Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika
juga dapat dilihat dari karakteristiknya, akhlak bersifat absolut sehingga
tetap relevan sepanjang masa, sedangkan moral dan etika bersifat relatif dan
dinamis, mengikuti perkembangan zaman serta konteks sosial yang meliputinya.
Perbedaan karakteristik inilah yang menjadi titik kontras mendasar di antara
keduanya.
Menariknya, jika ditinjau dari sudut pandang
psikologi keislaman akan dijumpai sebuah fakta bahwa semakin baik akhlak
seseorang, semakin tinggi pula tingkat ketenangan batin yang ia rasakan, sebab
akhlak berfungsi sebagai cerminan nyata dari kedekatan jiwa seseorang dengan
Tuhannya. Seseorang yang menjadikan akhlak sebagai pola repetitif cenderung
lebih tenang, tidak mudah cemas, dan lebih tahan menghadapi tekanan hidup. Sebagai
contoh, nilai-nilai spiritual seperti sabar, syukur, dan tawakal -yang menjadi
bagian dari akhlak- juga ditemukan berperan sebagai mekanisme coping
yang efektif dalam mengatasi stres.
Ketenangan semacam ini sulit didapatkan hanya
dengan mengikuti aturan moral atau etika sosial semata, sebab aturan tersebut
hanya menyentuh permukaan tanpa benar-benar merawat sisi batin manusia.
Dalam praktiknya, seorang murid akan dinilai
bermoral ketika ia bersalaman dengan gurunya di sekolah, hal itu karena
tindakan tersebut telah diajarkan dan diterapkan sebagai aturan umum oleh
sekolah manapun. Namun, perilaku semacam ini akan berhenti begitu konteksnya
berubah, misal ia tidak lagi bersalaman ketika bertemu dengan gurunya di luar
sekolah. Fenomena ini dapat terjadi karena pada dasarnya, ia bersalaman bukan karena kesadaran untuk
menghormati seorang guru, melainkan hanya sekedar bentuk kepatuhan terhadap
aturan, yang jika dilanggar akan dikenai sanksi.
Jika ditarik kembali benang merahnya, garis
demarkasi antara akhlak yang bersifat mutlak dan moral yang dinamis bukanlah
untuk saling meniadakan, melainkan menunjukkan bagaimana nilai-nilai kehidupan
bekerja secara berdampingan. Bagai sebuah pohon yang menghadapi banyak musim,
akhlak adalah buah murni yang menjadi esensi utama dari kehidupan yang luhur,
sedangkan moral dan etika adalah daun rimbun dan adaptif, yang senantiasa
menyesuaikan kondisinya dengan arah angin dan perubahan musim. Kedua elemen
inilah yang memastikan manusia tetap memiliki prinsip.
Pada akhirnya, berdasarkan uraian sebelumnya
dapat dipahami bahwa akhlak menempati posisi yang tidak tergantikan dalam
kehidupan seseorang. Ia adalah cermin yang paling jujur, yang tak pernah
berbohong meski tak seorang pun sedang menatapnya, memantulkan apa yang
sejatinya bersemayam dalam jiwa, jauh melampaui apa yang tampak di permukaan.
Akhlak adalah wujud nyata dari takwa yang berakar kuat dalam dirinya, tumbuh
diam-diam namun tak pernah benar-benar tersembunyi. Kekuatan akhlak terletak
pada karakternya yang tetap dan abadi, sementara moral dan etika terus berubah
mengikuti zaman dan budaya yang melingkupinya.



Komentar
Posting Komentar