Akhlak: Cermin Yang Tak Pernah Berbohong

                                                      (Source: Pinterest)

Oleh: Muh. Amin Nabil B


Ada satu ruang dalam diri manusia yang tidak pernah bisa dijangkau oleh mata, tidak dapat diukur dengan angka, namun keberadaannya justru paling menentukan arah hidup seseorang. Ruang itu adalah jiwa, tempat bersemayamnya nilai-nilai yang kelak akan tercermin dalam setiap langkah dan tindakan. Dari ruang itulah lahir apa yang disebut sebagai akhlak, sebuah kekuatan batin yang bekerja secara diam-diam namun berdampak nyata, membentuk siapa diri seseorang jauh sebelum ia sempat berpikir untuk memutuskan.

Imam Al-Gazali mendefinisikan akhlak sebagai suatu sifat yang telah menyatu dengan erat dalam jiwa manusia, sehingga mampu melahirkan suatu perbuatan dengan sendirinya, tanpa memerlukan pertimbangan atau pemikiran yang berkepanjangan. Sifat batin inilah yang kemudian menjadi penentu arah suatu tindakan. Apabila ia melahirkan perbuatan yang terpuji sesuai dengan ketentuan akal sehat dan tuntunan agama, maka itulah yang dinamakan akhlak yang baik. Namun sebaliknya, apabila sifat tersebut justru melahirkan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, maka itulah yang disebut sebagai akhlak yang buruk.

Akhlak memiliki kedudukan yang sangat krusial dalam ajaran Islam karena disandingkan dengan takwa. Keduanya diibaratkan sebagai buah dari sebatang pohon Islam yang berakarkan akidah dan bercabangkan syariat, sebab takwa merupakan kesadaran dan kepatuhan hati kepada Allah, sedangkan akhlak merupakan manifestasi nyata dari kesadaran tersebut dalam bentuk tindakan. Takwa tanpa akhlak yang baik hanya akan menjadi keyakinan yang tidak teraktualisasi, sedangkan akhlak tanpa takwa berpotensi kehilangan arah dan orientasi nilai. Dengan demikian, keduanya menjadi satu kesatuan yang saling melengkapi dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.

Pentingnya kedudukan akhlak ini juga dapat kita temukan dalam berbagai rujukan, seperti dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Kitab Asy-Syifa bi Ta'rifi Huquqil Musthafa dan beberapa hadis Rasulullah, di antaranya sabda yang menyatakan bahwa tujuan utama beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam kitab Ihya' Ulumuddin, Imam al-Ghazali mengklasifikasikan akhlak menjadi dua bentuk, yaitu akhlak terpuji dan akhlak tercela. Akhlak terpuji lahir dari niat karena Allah, kemudian tumbuh menetap dalam diri, dan muncul begitu saja sebagai cerminan seorang hamba yang senantiasa sadar akan Tuhannya. Sebaliknya, akhlak tercela juga tumbuh menetap dan muncul secara spontan, hanya saja ia lahir dari kesadaran diri yang telah kehilangan arah kepada-Nya. Bagi Imam al-Ghazali, akhlak bukan sekadar kategori perilaku yang bisa dinilai dari luar atau bersifat sekuler seperti moral dan etika, melainkan akar dari kesadaran seseorang tentang hubungannya secara ruhani dengan Allah.

Dalam perspektif akhlak, suatu perbuatan dinilai baik apabila memberikan kemanfaatan yang sesuai dengan akal sehat dan selaras dengan ajaran serta nilai-nilai agama, dan tidak hanya mendatangkan kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain Sebaliknya, suatu perbuatan dinilai buruk apabila bertentangan dengan nilai-nilai tersebut dan menimbulkan mudarat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Adapun perbedaan mendasar antara konsep akhlak dalam Islam dengan moral dan etika secara umum terletak pada sumber dan rujukan yang dijadikan tolok ukur untuk menilai baik-buruknya suatu perbuatan.

Dalam konsep moral dan etika, suatu perbuatan dinilai berdasarkan sistem budaya yang lahir dari mentalitas kolektif suatu masyarakat dan berkembang mengikuti perjalanan zaman. Berbeda halnya dengan akhlak, yang sumber dan tolok ukurnya berasal dari wahyu, Al-Quran dan Sunah, sehingga nilainya tidak bergantung pada kesepakatan atau pergeseran budaya manusia.

Perbedaan antara akhlak dengan moral dan etika juga dapat dilihat dari karakteristiknya, akhlak bersifat absolut sehingga tetap relevan sepanjang masa, sedangkan moral dan etika bersifat relatif dan dinamis, mengikuti perkembangan zaman serta konteks sosial yang meliputinya. Perbedaan karakteristik inilah yang menjadi titik kontras mendasar di antara keduanya.

Menariknya, jika ditinjau dari sudut pandang psikologi keislaman akan dijumpai sebuah fakta bahwa semakin baik akhlak seseorang, semakin tinggi pula tingkat ketenangan batin yang ia rasakan, sebab akhlak berfungsi sebagai cerminan nyata dari kedekatan jiwa seseorang dengan Tuhannya. Seseorang yang menjadikan akhlak sebagai pola repetitif cenderung lebih tenang, tidak mudah cemas, dan lebih tahan menghadapi tekanan hidup. Sebagai contoh, nilai-nilai spiritual seperti sabar, syukur, dan tawakal -yang menjadi bagian dari akhlak- juga ditemukan berperan sebagai mekanisme coping yang efektif dalam mengatasi stres.

Ketenangan semacam ini sulit didapatkan hanya dengan mengikuti aturan moral atau etika sosial semata, sebab aturan tersebut hanya menyentuh permukaan tanpa benar-benar merawat sisi batin manusia.

Dalam praktiknya, seorang murid akan dinilai bermoral ketika ia bersalaman dengan gurunya di sekolah, hal itu karena tindakan tersebut telah diajarkan dan diterapkan sebagai aturan umum oleh sekolah manapun. Namun, perilaku semacam ini akan berhenti begitu konteksnya berubah, misal ia tidak lagi bersalaman ketika bertemu dengan gurunya di luar sekolah. Fenomena ini dapat terjadi karena pada dasarnya,  ia bersalaman bukan karena kesadaran untuk menghormati seorang guru, melainkan hanya sekedar bentuk kepatuhan terhadap aturan, yang jika dilanggar akan dikenai sanksi.

Jika ditarik kembali benang merahnya, garis demarkasi antara akhlak yang bersifat mutlak dan moral yang dinamis bukanlah untuk saling meniadakan, melainkan menunjukkan bagaimana nilai-nilai kehidupan bekerja secara berdampingan. Bagai sebuah pohon yang menghadapi banyak musim, akhlak adalah buah murni yang menjadi esensi utama dari kehidupan yang luhur, sedangkan moral dan etika adalah daun rimbun dan adaptif, yang senantiasa menyesuaikan kondisinya dengan arah angin dan perubahan musim. Kedua elemen inilah yang memastikan manusia tetap memiliki prinsip.

Pada akhirnya, berdasarkan uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa akhlak menempati posisi yang tidak tergantikan dalam kehidupan seseorang. Ia adalah cermin yang paling jujur, yang tak pernah berbohong meski tak seorang pun sedang menatapnya, memantulkan apa yang sejatinya bersemayam dalam jiwa, jauh melampaui apa yang tampak di permukaan. Akhlak adalah wujud nyata dari takwa yang berakar kuat dalam dirinya, tumbuh diam-diam namun tak pernah benar-benar tersembunyi. Kekuatan akhlak terletak pada karakternya yang tetap dan abadi, sementara moral dan etika terus berubah mengikuti zaman dan budaya yang melingkupinya.


Editor: Muh. Dhafa Ardalopha 

 

 

Komentar

Postingan Populer